www.AlvinAdam.com

Subcribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

'Meresapi emosi' tarian Tango khas Argentina di Jakarta

Posted by On 22.43

'Meresapi emosi' tarian Tango khas Argentina di Jakarta

]]> 'Meresapi emosi' tarian Tango khas Argentina di Jakarta

tango, jakartaHak atas foto BBC Indonesia
Image caption Dua penari Tango yang terg abung dalam komunitas Paciencia Milonga di Jakarta.

Delapan pria dan perempuan berpelukan dengan pasangan masing-masing dan melangkah mengikuti alunan lagu berbahasa Spanyol. Walau beberapa tampak memejamkan mata menghayati musik, tiada yang bertabrakan satu sama lain.

Keempat pasangan itu adalah penari TangoĆ¢€"tarian khas Argentina yang diselenggarakan secara rutin sebuah komunitas di Jakarta bernama Paciencia Milonga.

"Paciencia itu passion, hasrat. Milonga itu acara dansa untuk rakyat, dangdutan lah kalau di Indonesia," kata Santosa Wijaya, salah seorang pendiri komunitas tersebut, sambil tertawa.

  • Tarian Dayak di mata penari asing: Sulit dan spiritual
  • Pencak Silat dan ekspresi rindu kampung dalam Tari Rantak
  • Tango untuk ulang tahun Paus Fransiskus

Selama setahun terakhir, Santosa yang lebih memilih disapa dengan nama panggilan Fuchon g, menggelar tarian Tango untuk khalayak umum.

Sedemikian besar hasrat atau renjana pria asal Bali itu, sepanjang percakapan dia bertutur dengan menggebu-gebu seraya sesekali membelalakkan mata.

"Setiap kali berbincang soal Tango, saya sangat excited!" ujarnya dalam bahasa Indonesia bercampur bahasa Inggris.

Ketertarikan Fuchong pada Tango juga yang membuatnya memandang tarian khas Argentina itu bukan semata-mata sebagai susunan langkah dan gerak.

'Musik Keputusasaan'

Jauh sebelum belajar melangkah, yang utama dalam mempelajari Tango, menurutnya, adalah mengenal musiknya.

"Lagu Tango itu tidak seperti lagu untuk dansa pada umumnya. Jika lagu dansa umumnya punya pola ketukan satu sampai delapan, lagu untuk Tango tidak demikian. Frase-frase pada liriknya panjang. Kemudian, satu lagu dengan lagu lain berbeda. Jadi susah untuk menentukan polanya," papar Fuchong.

Untuk bisa menjiwai lagu Tango pun menjadi tant angan karena semua lagu berbahasa Spanyol. Meski demikian, Fuchong yang menimba ilmu dari sejumlah maestro Tango di Buenos Aires, Argentina, mengatakan ada benang merah dari lagu-lagu Tango.

"Hampir semua lagu Tango itu bercerita soal keputusasaan. Ini tidak lepas dari awal munculnya Tango yang diciptakan komunitas budak di daerah kumuh La Boca, Buenos Aires. Jauh dari keluarga, istri, dan anak, hati mereka itu sedih," tutur Fuchong.

"Walau kita tidak paham dengan kalimatnya, tapi melodinya membuat kita mengerti, 'Oh, Tango harus dengan passion, harus lebih sabar," lanjutnya.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Dalam tarian Tango, merapatkan tubuh dengan pasangan menari adalah hal krusial.

Belajar melangkah

Yang membuat tarian Tango unik adalah teknik dasarnya. Gara-gara hal ini, Fuchong mengaku sempat bingung ketika berguru kepada beberapa maestro Tango di Argentina.

"Kalau ditanya apa sih teknik dasarnya? Jalan. Saya pernah minta pola langkah dasar kepada mereka, misalnya satu langkah ke kiri, dua langkah ke kanan. Mereka bilang, 'Tidak. Kamu jalan'. Setelah itu mereka berkata, 'Kamu harus memecahkan sendiri masalah kamu, untuk menciptakan gerakan kamu'," kenang Fuchong.

Dia lalu mencontohkan bahwa dalam dansa Tango massal, sejumlah pasangan menari secara bersamaan.

"Nah, bagaimana saya harus berdansa bersama pasangan saya, melewati sepasang penari yang ada di depan, tanpa mengganggu keseimbangan. Jadi gerakan muncul dari situ, spontanitas! Jadi para maestro itu meminta kita belajar lebih kreatif, tidak ada pakem khusus," jelasnya.

Dari situ Fuchong kemudian mulai bisa menggapai filosofi yang terkandung dalam tarian tersebut.

"Filosofi dalam tango adalah mengenali dan menghargai yang ada di sekeliling. Apakah itu musiknya, ruangannya, orang-orang di sekitarnya. Langkah bisa kita hapalkan, tetapi budayanya tidak bisa kita hapalkan."

Ina Utomo, penari Tango yang biasa berdansa berpasangan dengan Fuchong, menimpali. Menurutnya, karena Tango diciptakan komunitas budak dan menjadi tarian rakyat, kondisi egaliter menjadi sangat kental dalam Tango.

"Di Tango tidak mengenal ras, status ekonomi, agama. Saya pernah selesai berdansa dengan dua pria di Buenos Aires, belakangan saya tahu mereka adalah satpam dan supir taksi," selorohnya.

Image caption Dalam kontes menari Tango, juri tidak hanya melihat variasi gerakan tapi juga koneksi emosional antarpasangan penari.

Berpelukan erat dan kecanggungan

Selain harus meresapi emosi dalam lagu berbahasa Spanyol dan teknik berjalan yang tidak mudah, tantangan tarian Tango selanjutnya adalah berpelukan.

Hal ini, menurut Fuchong, ada tekniknya dan tidak dilakukan sembarangan.

"Lelaki tidak boleh langsung memeluk perempuan. Perempuan yang harus memeluk terlebih dulu. Jika ada keengganan, perempuan akan buka jarak. Jika perempuan tidak keberatan dipeluk, maka dia harus mencari koneksi dengan pasangan laki-laki," ujarnya.

Posisi kedua tangan penari perempuan dan laki-laki, sambung Fuchong, diletakkan di bahu dan pinggang.

"Tapi, kembali lagi ke pasangan itu untuk menemukan kenyamanan masing-masing. Tidak sembarangan," cetusnya.

Sikap merangkul pasangan ini, menurut Fuchong, menjadi krusial karena dalam Tango kedua penari harus tetap berpelukan:

&qu ot;Mungkin Anda pernah dengar 'It takes two to Tango?' Perlu dua orang untuk menari Tango? Anda tidak bisa menari sendirian di Tango. Karena itu, kita harus sejalan dengan pasangan kita, tidak boleh lepas," tegasnya.

Image caption Melangkah dalam tarian Tango sepintas terdengar sepele, tapi merupakan teknik dasar yang sulit dilakukan, kata Fuchong.

Bagaimanapun, berpelukan menimbulkan kecanggungan besar sebagaimana dipaparkan Ina Utomo, penari Tango yang mempelajari tarian itu di Argentina tujuh tahun silam.

"Kebanyakan orang Indonesia kalau dikasih lihat dansa Tango, itu mereka sudah mundur. Kenapa? Karena pelukan. Budaya kita nggak bisa meluk. Untuk memasukkan budaya itu yang menurut saya sangat susah," kata Ina.

"Saya sendiri awal-awal belajar canggung sekali, sangat. Sampai guru saya di Argentina bilang, 'Kalau kamu mau belajar Tango, kamu harus belajar budayanya'. Jadi menurut dia, berpelukan di budaya mereka adalah sesuatu yang normal," sambungnya.

Kecanggungan itu diakui Ludi, salah seorang ibu rumah tangga yang telah belajar menari Tango sejak 2005 lalu. Meski demikian, dia menegaskan, bukan hal yang tabu untuk menolak berdansa jika merasa canggung.

"Saya biasa menari Tango dengan siapa saja. Tapi, sebagai perempuan, saya kan bisa membaca niat pasangan menari, apakah dia sungguh-sungguh ingin berdansa atau ada maksud lain. Jika yang kedua, saya katakan, 'Maaf, saya kira tidak perlu dilanjutkan'. Itu bukan hal yang tabu dalam Tango," urainya.

Image caption Perkembangan tarian Tango di Indonesia cukup lambat, menurut Fuchong, karena tarian tersebut mengharuskan pasangan penari berpelukan erat.

Perkembangan lambat

Dengan segala tantangannya, kursus menari Tango bagi pemula tetap didatangi pengunjung dari beragam latar belakang dan usiaĆ¢€"walau jumlahnya malam itu bisa dihitung dengan jemari di sebelah tangan.

Menurut Fuchong, situasi itu adalah cerminan lambatnya perkembangan tarian Tango di Indonesia.

"Perkembangan Tango lambat di Indonesia karena tarian ini kan budaya Barat ya. Tapi itu tidak membuat saya pesimis. Sebab, ada saja orang yang datang ke sini untuk belajar setelah melihat di Youtube. Daripada masyarakat pada jaman dulu, masyarakat sekarang setidaknya bisa tahu Tango terlebih dulu melalui perkembangan teknologi," kata Fuchong.

Perkataan Fuchong diamini Angga dan Dina, dua karyawan swasta yang ingin belajar Tango dan paham kon sekuensinya setelah menyaksikan tarian Tango di internet.

"Saya mungkin akan ajak suami jika menari berpasangan," kata Dina, yang datang untuk pertama kalinya untuk mengikuti kelas pemula.

Sumber: Google News | Berita 24 Jakarta

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »