www.AlvinAdam.com

Berita 24 Jakarta

Subcribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

'Super Blue Blood Moon' yang spektakuler kendati banyak terhalang awan

Posted by On 19.53

'Super Blue Blood Moon' yang spektakuler kendati banyak terhalang awan

]]> 'Super Blue Blood Moon' yang spektakuler kendati banyak terhalang awan

SupermoonHak atas foto Prasetijono Widjojo MJ
Image caption Gejala super blue blood moon seperti terlihat di Jakarta.

Penampakan gejala alam langka ini menakjubkan banyak orang yang menyaksikannya, namun tak sedikit yang kecewa karena di daerah mereka turun hujan, atau langit terhalang awan.

Di Jakarta, misalnya, di bebarapa bagian langit cerah sehingga masyarakat menikmati kejadian langka ini, namun di beberapa bagian lain langit berawan bahkan di tempat-tempat yang menjadi lokasi pengamatan khusus.

Di sekitar Merdeka Barat, langit yang cerah membuat Prasetijono Widjojo MJ tak hentinya memotret.

"Menakjubkan, spektakuler," katanya. "Saya tak bisa mengalihkan perhatian. Memotret terus, mengganti-ganti setelan pemotretan," katanya pula.

Di Jakarta Selatan, sekitar Kemang, juga sekitar Bintaro, kendati awan sempat muncul beberapa waktu, langit juga cukup cerah, sehingga wartawan BBC Haryo Wirawan bisa mengabadikan bulan dalam be rbagai fase super blue bold moon ini.

Sementara di kawasan TIM dan Pantai Ancol, awan tebal terlalku dominan, sehingga bulan hanya muncul sesekali.

Sekitar pukul sembilan malam waktu Jakarta, orang berduyun-duyun meninggalkan Taman Ismail Marzuki, TIM, setelah sesekali mengintip bulan purnama merah dari balik awan.

Beberapa orang mengungkapkan kekecewaan karena mereka tak bisa sepenuhnya mengalami fenomena langka yang disebut super blue blood moon ini karena terhalang awan.

Sejak sekitar pukul tujuh malam, sekitar seribu orang telah berkumpul di lapangan TIM untuk menyaksikan gejala alam ini dan kebanyakan dari mereka mengantre untuk melihat bulan melalui lensa teleskop.Tapi ternyata, dalam dua jam, bulan hanya muncul beberapa kali.

  • Lima hal yang perlu Anda ketahui tentang 'Super blue blood moon'
  • Usai supermoon, publik Indonesia bisa saksikan bulan cembung besar
  • Sekilas tentang bulan super, ketika bulan paling dekat ke Bumi

Bagaimanapun di antara pengunjung yang pulang ada juga yang mengungkapkan kepuasan, seperti diungkapkan Abdul Kodir, yang datang bersama keluarganya.

"Saya tadi sempat lihat. Seneng aja sih," ujarnya.

Wartawan BBC Ging Ginanjar yang berjaga di Ancol harus kecewa, karena saat tiba di kawasan pantai sekitar pukul 20:00, langit gelap sepenuhnya.

Sementara di Solo, hujan deras yang sempat mengguyur pada Rabu (31/01) juga membuat fenomena alam gerhana bulan total moon tak terlihat.

Alhasil acara nonton bareng gerhana bulan itu yang digelar di Observatorium Pondok Pesantren Modern Islam (PPMI) Assalam, Sukoharjo batal digelar.

Image caption Para pengunjung di TIM, Jakarta Pusat, menanti bulan muncul kembali di langit.

Sejumlah pengunjung sebenarnya mulai berdatangan sejak pukul 18.30 WIB di Observatorium PPMI Assalaam sementara sejumlah santri yang tergabung dalam Club Astronomi Santri Assalaam juga sudah berkumpul di ruang instrumen observatorium.

Sementara di Pekanbaru, gejala super blue blood moon terlihat cukup jelas dengan warna kemerahannya, seperti dilaporkan wartawan setempat, Rony Muharrman, untuk BBC Indonesia.

Hak atas foto Rony Muharrman
Image caption Warna kemerahan terlihat cukup jelas lewat pengamatan di Pekanbaru, Riau.

Gejala super blue blood moon ini merupakan kombinasi dari tiga hal, yaitu gerhana bulan, terjadi pada penampakan bulan purnama kedua dalam satu bulan k alender, dan juga ketika bulan di posisi terdekat dengan bumi.

Di belahan dunia lain, warga juga bisa menyaksikannya, seperti di Cina, Korea.

Image caption Sementara di Jakarta tidak terlalu jelas warna kemerahannya.

Di Solo, walau hujan belakangan mereda, supermoon tetap tidak terlihat, seperti dijelaskan Kepala Pusat Astronomi Assalaam, AR Sugeng Riyadi.

"Tadi hujan mulai jam 15.00 turun hujan deras selama satu jam. Setelah itu reda namun masih rintik-rintik kecil hingga Rabu petang," tuturnya di Observatorium Assalam, seperti dilaporkan wartawan BBC Indonesia, Fajar Sidiq untuk BBC Indonesia.

Hak atas foto EPA, Korea selatan
Image caption Supermoon dengan latar belakang lambang Olimpiade saat 'melewati' kompleks Olimpiade Musim Dingin 2018 di Pyeongchang, Korea Selatan.

Meskipun sempat reda, lanjut dia, namun seluruh bagian langit mendung total sehingga bulan yang seharusnya sudah tinggi tidak bisa menembus awan ketika fasenya sudah mencapai 100%.

Beberapa pengunjungpun kecewa, termasuk Mina, yang sengaja datang khusus dari Klaten ke Observatorium Assalaam. "Sebenarnya ingin jadi saksi gerhana bulan total tapi malah tidak terlihat."

Image caption Selain di Jakrarta (seperti dalam gambar di pojok kiri atas), s upermoon juga terlihat di beberapa kota dunia lain.

Kekecewaan juga diungkapkan Wibowo, yang datang datang ke Observatorium Assalaan dengan putrinya untuk melihat gerhana bulan itu dengan teleskop yang disediakan pihak observatorium.

"Ini mengajak anak karena penasaran dengan gerhana bulan. Tapi ini malah mendung jadi tidak terlihat," ucapnya.

Sumber: Google News | Berita 24 Jakarta

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »